Rel Kereta Api Sumbar, Warisan Bersejarah yang Terus Menggerakkan Mobilitas dan Ekonomi
PADANG (CNPost) – Jaringan rel kereta api di Sumatera Barat merupakan salah satu aset bersejarah yang hingga kini tetap berperan penting dalam mendukung mobilitas masyarakat dan pertumbuhan ekonomi daerah. Selain menjadi saksi perkembangan transportasi sejak akhir abad ke-19, jalur kereta api juga terus berkembang sebagai moda transportasi yang menghubungkan berbagai pusat aktivitas masyarakat.
Pada masa awal pembangunannya, jalur kereta api difungsikan untuk mengangkut batu bara dari tambang Ombilin di Sawahlunto menuju Pelabuhan Emmahaven yang kini dikenal sebagai Teluk Bayur. Seiring waktu, jaringan rel diperluas hingga menghubungkan Padang, Pariaman, Kayu Tanam, Padang Panjang, Bukittinggi, Solok, Payakumbuh, hingga Sawahlunto. Kehadiran jalur tersebut turut mendorong tumbuhnya kawasan perdagangan, permukiman, dan aktivitas sosial masyarakat.
Kini, kereta api tetap menjadi pilihan transportasi bagi masyarakat untuk menuju tempat kerja, sekolah, Bandara Internasional Minangkabau, pusat ekonomi, hingga berbagai destinasi wisata di Sumatera Barat.
Penguatan konektivitas perkeretaapian di Pulau Sumatra yang menjadi bagian dari kebijakan pemerintah pusat turut membuka peluang besar bagi Sumatera Barat. Provinsi ini dinilai memiliki modal kuat berupa jaringan rel yang telah tersedia, infrastruktur pendukung, serta tingginya minat masyarakat menggunakan transportasi berbasis rel.
Saat ini, PT Kereta Api Indonesia (Persero) Divre II Sumatera Barat mengelola jaringan rel sepanjang 312,232 kilometer spoor (kmsp), terdiri dari 110,910 kmsp jalur aktif dan 201,322 kmsp jalur nonaktif. Operasional tersebut didukung oleh 20 stasiun dan shelter penumpang, serta empat stasiun angkutan barang.
Layanan penumpang dilayani melalui KA Pariaman Ekspres, KA Minangkabau Ekspres, dan KA Lembah Anai. Sementara angkutan barang melayani distribusi semen dan klinker pada relasi Indarung–Bukit Putus.
Kepercayaan masyarakat terhadap kereta api terus mengalami peningkatan. Selama Semester I Tahun 2026, KAI Divre II Sumatera Barat melayani 1.140.586 pelanggan, sedangkan volume angkutan barang mencapai 556.465 ton, yang terdiri atas 362.740 ton semen dan 193.725 ton klinker.
Dalam lima tahun terakhir, jumlah pengguna kereta api juga menunjukkan tren positif. Dari sekitar 1,09 juta pelanggan pada 2021, jumlahnya meningkat menjadi 1.978.241 pelanggan pada 2025, atau tumbuh sekitar 81 persen. KA Pariaman Ekspres masih menjadi layanan favorit masyarakat, sementara KA Lembah Anai juga mengalami peningkatan jumlah penumpang setelah penyesuaian pola perjalanan pada 2026.
Selain melayani transportasi harian, jaringan kereta api dinilai memiliki prospek besar dalam mendukung sektor pariwisata. Destinasi unggulan seperti Jam Gadang, Danau Singkarak, Sawahlunto, Padang Panjang, hingga Bukittinggi berpotensi semakin mudah dijangkau melalui moda transportasi berbasis rel.
Peluang pengembangan juga masih terbuka melalui reaktivasi sejumlah jalur nonaktif, seperti Naras–Sungai Limau, Kayu Tanam–Padang Panjang–Bukittinggi, serta Solok–Muaro Kalaban, apabila direalisasikan sesuai dengan rencana pemerintah.
Kepala Humas KAI Divre II Sumatera Barat, Reza Shahab, menyebut sejarah panjang perkeretaapian menjadi modal penting dalam memperkuat konektivitas wilayah di Pulau Sumatra.
Menurutnya, kereta api tidak hanya memiliki nilai historis, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat melalui layanan transportasi yang aman, efisien, serta mendukung sektor logistik, pariwisata, dan akses menuju bandara.
Ia optimistis, apabila pengembangan jaringan dan reaktivasi jalur dapat direalisasikan secara bertahap, kereta api akan semakin berperan dalam meningkatkan konektivitas antardaerah, memperkuat distribusi logistik, memperluas akses menuju kawasan wisata, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata.
Dengan dukungan infrastruktur yang telah tersedia, tingginya kepercayaan masyarakat, serta peluang pengembangan jaringan di masa depan, Sumatera Barat dinilai memiliki posisi strategis dalam mendukung terwujudnya sistem perkeretaapian Pulau Sumatra yang modern, terintegrasi, dan berkelanjutan.
Related Articles