“Dari Aktivis ke Istana: Jalan Terjal Jumhur Hidayat Menuju Kursi Kabinet”

Politik 30 Apr 2026 12:00 2 min read 55 views By Rahman
“Dari Aktivis ke Istana: Jalan Terjal Jumhur Hidayat Menuju Kursi Kabinet”
Perjalanan karier Jumhur Hidayat menjadi sorotan publik setelah dirinya resmi dipercaya menjabat sebagai menteri dalam pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

NASIONAL (CNPost) – Langkah Jumhur Hidayat menuju kursi kabinet di pemerintahan Prabowo Subianto menjadi kisah yang menggugah sekaligus sarat makna dalam lanskap politik Indonesia hari ini. Di tengah dinamika kekuasaan yang kerap berubah arah, namanya hadir sebagai simbol perjalanan panjang—dari jalanan aktivisme hingga ruang-ruang strategis negara.

 

Dikenal sebagai sosok vokal dalam memperjuangkan isu ketenagakerjaan, Jumhur bukanlah nama baru. Ia pernah memimpin Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI), memperjuangkan nasib pekerja migran di tengah kompleksitas globalisasi. Namun, langkahnya tak selalu mulus. Dalam perjalanan itu, ia sempat berada di posisi berseberangan dengan pemerintah sebelumnya di bawah kepemimpinan Joko Widodo.

 

Di masa lalu, ia pernah menghadapi proses hukum yang menyita perhatian publik—sebuah episode yang membuka perdebatan panjang tentang kebebasan berekspresi di negeri ini. Namun waktu berjalan, dan seperti arus yang tak pernah berhenti, Jumhur kembali muncul ke permukaan. Ia tetap setia menyuarakan aspirasi masyarakat, terutama kaum pekerja dan kelompok ekonomi lemah.

 

Kini, penunjukannya sebagai menteri bukan sekadar pengisian jabatan. Ia menjadi penanda arah baru: sebuah upaya merajut kembali simpul-simpul yang sempat terurai. Di tangan pemerintahan baru, langkah ini dibaca sebagai sinyal inklusivitas—bahwa perbedaan masa lalu bukanlah penghalang untuk bersama membangun masa depan.

 

Masuknya Jumhur ke lingkar kekuasaan membawa harapan. Ada ekspektasi bahwa kebijakan yang lahir akan lebih berpihak kepada pekerja, lebih peka terhadap denyut ekonomi rakyat kecil. Di saat yang sama, ini juga menjadi cermin bahwa politik Indonesia terus bergerak, membuka ruang rekonsiliasi dan perubahan.

 

Perjalanan Jumhur Hidayat adalah potret demokrasi yang hidup—kadang keras, kadang penuh luka, namun selalu memberi ruang bagi mereka yang bertahan untuk kembali melangkah.

Share berita ini

Cakra Nusantara Post